Praktik Penyuluhan Kesehatan Penyakit Kulit

 Herpes Simplex

Herpes simplex adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Herpes Simplex (VHS) tipe 1 dan

tipe 2. VHS tipe 1 menyerang rongga mulut, wajah, dan leher, sedangkan virus tipe 2

menyerang area genital, bisa menular melalui kontak langsung ketika berhubungan seksual.

Virus ini berbahaya karena mudah melular melalui oral-oral, kontak lesi, air liur, dan permukaan

mukosa mulut, melalui ciuman, dan bertukar alat makan. Faktor-faktor yang menyebabkan

herpes pada anak diantaranya:

1. Usia. Anak-anak rentan terinfeksi karena imunitasnya masih kurang

2. Jenis kelamin. Perempuan lebih rentan terinfeksi

3. Sosial ekonomi. Pendapatan rendah cenderung tidak bisa memperoleh pelayanan

kesehatan yang baik

4. Penularan ibu ke janin/neonatal. Ibu hamil dengan herpes memiliki risiko menularkan

sebesar 50-80%

5. Kontak fisik langsung dengan orang yang terinfeksi.

Gejala Herpes Simplex bisa asimtomatis (tidak bergejala) atau simtomatis. Gejala simtomatisnya

yaitu ada lesi di area mulut, rasa perih, terbakar, gatal, dan sakit pada luka, sariawan, demam,

radang tenggorokan, lelah, dan tidak nafsu makan. Walaupun penampilannya sama, Herpes

simplex berbeda dengan herpes zoster dari segi penyebab dan gejala. Herpes zoster

disebabkan varicella zoster dengan gejala ruam dan bintil berisi cairan di kulit di area tubuh

manapun. Sedangkan herpes simplex disebabkan oleh VHS dengan gejala luka lepuh di atas

area yang kemerahan. Pemeriksaan dokter terhadap penyakit ini bisa melalui manifestasi klinis

berdasarkan tampilan lesi dan areanya, biopsi, kultur virus, dan PCR. Terapi farmakologi Herpes

simplex terdiri dari terapi kausatif, simtomatik, dan suportif.

a. Terapi kausatif (mencegah perkembangbiakan virus, kekambuhan, dan penularan): antivirus

asiklovir 5% topikal 5x sehari untuk anak > 12 tahun; asiklovir 75 mg/kg/hari po dibagi 5x

sehari selama 7 hari, Asiklovir 5 mg/kg 3x1 iv, Valsiklovir 1 g 2x1 po selama 7 hari untuk

anak > 12 tahun

b. Terapi simptomatik (mengurangi gejala): analgesik antipiretik paracetamol 10-15 mg/kg tiap

6 jam prnc. Suportif: multivitamin untuk meningkatkan imun, obat kumur klorheksidin diglukonat 0,12%

sebagai antiseptik, serta makanan tinggi kalori dan protein yang bertekstur halus dan lembut.

Pencegahan herpes simplex dapat dilakukan dengan cara:

1. Menghindari kontak langsung dengan penderita, misal memegang atau mencium anak

2. Cuci tangan dengan sabun hingga bersih setiap ingin menyentuh bayi/anak

3. Ortu memperhatikan kondisi anak jika ada keluhan atau lesi pada area kulit

4. Tidak berbagi alat makan sembarangan dgn org lain

5. Tidak memasukkan mainan ke mulut atau berbagi mainan dengan anak herpes

6. Menjaga kebersihan tubuh anak dengan memandikan menggunakan sabun dan air hangat

Pencegahan ini penting karena vaksin herpes simplex belum ada di Indonesia.

Anak perlu dibawa ke dokter jika ada lesi di area wajah/mulut disertai demam dan penurunan

nafsu makan.


Jerawat

Pasien memiliki jerawat sudah tiga hari tanpa gejala penyerta. Manifestasi klinis terkait

jerawatnya yaitu banyak komedo dengan jenis terbuka (berwarna hitam) dan tertutup (berwarna

putih). Selain itu juga ada benjolan kecil berwarna merah, ada beberapa papula yakni benjolan

kecil kemerahan, dan pustula yakni benjolan kecil yang di ujungnya terdapat nanah di area dahi

dan pipi. Penyebab jerawat pada pasien disebabkan karena pasien sering berganti kosmetik dan

pembersih wajah, stres, dan paparan polusi/debu. Kosmetik memiliki kandungan bahan kimia

yang bersifat komedogenik atau tidak cocok dengan jenis kulit, serta sebenarnya kulit juga butuh

waktu untuk beradaptasi dan menyerap manfaat dari kosmetik. Maka dari itu, pasien dengan

kulit berjerawat disarankan menggunakan kosmetik dengan kandungan yang tepat dan sesuai

dengan jenis kulit serta digunakan seminimal dan sesingkat mungkin. Pasien juga disarankan

untuk menggunakan masker guna melindungi wajah dari polusi. Jika ingin menggunakan

kosmetik, maka disarankan untuk memilih kosmetik dengan kandungan berbasis air atau gliserin

dan memastikan bahan kosmetik non-komedogenik, bebas minyak, ataupun hypoallergenic.

Berdasarkan keparahan gejalanya, pasien mengalami jerawat rengan sehingga diberikan obat

gel benzolac yang mengandung 2,5% benzoil peroksida digunakan sebelum tidur. Cara

pakainya langsung saja dioleskan ke kulit yang berjerawat dan sudah dibersihkan sebelumnya.

Efek samping dari obat ini yaitu iritasi, kemerahan, dan kering. Namun, efek samping ini tidak

selalu terjadi pada semua orang. Jika efek samping ini muncul dan semakin parah, maka bisa

konsultasi dengan dokter.

Pustule merupakan benjolan merah berisi nanah, papule merupakan benjolan merah,

sedangkan nodule merupakan benjolan keras yang tidak berisi nanah.

Obat lini pertama untuk jerawat ringan adalah terapi kombinasi benzoil peroksida dan antibiotik

topikal seperti klindamisin. Kedua obat ini bisa diberikan oleh apotek karena benzoil peroksidamerupakan obat bebas terbatas dan klindamisin merupakan obat wajib apotek. Jika kedua obat

ini tersedia dalam sediaan yang berbeda, maka tidak boleh digunakan bersamaan.

Pasien bisa disarankan obat jerawat berbahan alam atau dengan bahan berbasis air serta terapi

non farmakologi terkait manajemen stres.


Psoriasis

Psoriasis adalah penyakit autoimun kronik pada kulit dan bersifat seumur hidup akibat adanya

peningkatan pertumbuhan sel. Psoriasis berupa sisik, bercak merah, gatal, dan kulit terasa lebih

tebal. Psoriasis memiliki beberapa jenis bergantung pada lokasinya, yaitu psoriasis eritroderma

timbul di punggung, psoriasis plak di leher, psoriasis inversa di ketiak, psoriasis pustular di

tangan, psoriasis ekstrakutan di kuku, dan psoriasis gutata di dada. Psoriasis mirip dengan

eczema atau eksim. Perbedaannya adalah sebagai berikut.

a. Psoriasis biasanya terjadi di umur 20-30 tahun dan 50-60 tahun, sedangkan eksim biasanya

terjadi pada anak

b. Peradangan pada Psoriasis disebabkan oleh slimfosit T, sedangkan eksim karena pruritis

intens.

c. Psoriasis bisa diperparah dengan komorbid seperti diabetes, sedangkan eksim bisa karna

asma dan rinitis.

d. Psoriasis dipengaruhi alergen, eksim tidak.

e. Lesi Psoriasis diselimuti kulit kering putih keabuan, sedangkan pada eksim lesinya berupa

ruam kecil, gatal, dan pupula

f. Lesi pada Psoriasis terasa nyeri, sedangkan eksim tidak.

g. Pasien Psoriasis merasakan nyeri sendi

h. Psoriasis muncul pada ekstensor, sedangkan eksim pada flexure.

i. Diagnosis psoriasis meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Terapi

yang dapat diberikan yaitu:

Langkah 1: obat topikal untuk Psoriasis ringan (< 3%)

Langkah 2: fototerapi untuk pasien yang gagal dengan langkah 1 (sedang-berat)

Langkah 3: obat sistemik untuk pasien dengan gejala sedang-berat, artritis

Pilihan terapi:

a. Terapi topikal: emolien untuk pelembab, kortikosteroid untuk meredakan peradangan,

keratolitik untuk menghilangkan pengelupasan, retinoid topikal untuk menormalkan

pertumbuhan sel, analog vitamin D, kombinasi kortikosteroid-analog vitamin D, dan coal tar

b. Fototerapi: sinar UVB broadband, narrowband, dan PUVA (psoralen peroral + sinar UVB).

c. Terapi sistemik: metotreksat, siklosporin, retinoid, sulfasalazin

d. Agen biologis: etanercept, inflaximib

Terapi ini hanya bersifat mengurangi gejala, bukan menyembuhkan. Psoriasis tidak dapat sembuh.Terapi non obat yang dapat dilakukan yaitu menggunakan pelembab, menghindari suhu terlalu dingin/panas, cermat dalam memilih produk, menghindari sabun keras, menggunakan pembersih bebas lipid, menghindari trauma kulit seperti luka, menggunakan sunscreen, menggunakan pakaian longgar, memperbaiki gaya hidup dengan berhenti merokok dan minum alkohol, hindari makanan berlemak, hindari stres, makan sayur dan buah.


Kusta

Kusta adalah infeksi kronis yang disebabkan Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyebabkan

luka, lesi, dan benjolan pada kulit serta mengakibatkan neuropati pada saraf tepi. Kusta dapat

dibedakan menjadi pausibasiler dan multibasiler. Kusta pausibasiler bentuknya asimetris,

berjumlah 1-5, batasnya tegas, kering, dan kasar. Bercak yang ditimbulkan pada kulit lebih

terang dari kulit sekitarnya, anestesinya jelas, dan terjadi penebalan saraf tepi yang dini dan

asimetris. Sedangkan kusta multibasiler bentuknya simetris, jumlahnya lebih dari 5, tidak tegas,

halus, dan berkilat. Bercaknya berwarna kemerahan, anestesi tidak jelas, dan terjadi penebalan

saraf tepi yang lebih lanjut dan simetris. Jenis kusta ini dapat diperiksa dengan pemeriksaan

BTA (hasil positif). Kusta dapat ditularkan melalui bakteri dan lingkungan ke manusia. Gejala

kusta yaitu kulit mati rasa, tidak berkeringat, dan kaku/kering; mata menjadi kering dan jarang

mengedip, bulu mata dan alis mata hilang, serta rasa nyeri pada siku.

Cara memperlakukan penderita kusta yaitu kita dapat memberi motivasi pasien untuk ke

puskesmas, tidak mengucilkan, memberi dukungan sosial agar pasien semangat untuk sembuh,

mengingatkan minum obat, dan memberi edukasi bahwa kusta dapat disembuhkan. Terapi

farmakologi kusta menggunakan Multi Drug Therapy (MDT), yaitu Rifampicin sebagai antibakteri

dan pencegahan penularan kusta, Dapson sebagai antikusta dan pencegahan kusta, dan

Klofazimin sebagai antiinflamasi untuk reaksi lepra. Obat-obat ini tidak bisa dibeli di apotek

tanpa resep dokter. Obat yang sering digunakan di Indonesia adalah Rifampicin. Obat diberikan

selama 6-9 bulan. Terapi non farmakologi kusta yaitu menjaga kebersihan diri, mengistirahatkan

anggota tubuh yang terlihat kemerahan atau melepuh, psikoedukasi, perawatan diri, dan latihan

gerak sendi. Penularan kusta dapat dicegah dengan menghindari kontak fisik dan droplet/air liur

dengan penderita, menjaga kebersihan, makan makanan bergizi, dan profilaksis dengan

rifampicin. Disabilitas pada penderita kusta dapat dicegah dengan deteksi dini dan patuh minum

obat. Kusta juga dapat dicegah dengan vaksinasi BCG. Disabilitas pada kusta disebabkan oleh

ulkus dan harus segera diatasi.

Obat profilaksis kusta yaitu Rifampicin tidak perlu diberikan kepada anggota keluarga.


Panu

Pasien mengalami panu dengan keluhan gatal-gatal dan terdapat bercak putih pada kulitnya.

Panu disebabkan kondisi tubuh yang lembab. Pasien cukup diberi krim ketoconazole 2% dan

tidak perlu diberi obat oral tablet Ketoconazole karena tablet ini merupakan obat keras dan

harus menggunakan resep dokter. Krim ini digunakan 2x sehari di waktu pagi dan malam

setelah mandi agar optimal. Penggunaan krim dalam keadaan kotor akan mengurangi

efektivitasnya. Efek sampingnya yaitu kulit kemerahan dan ruam, tetapi tidak muncul pada

semua orang. Krim Ketoconazole ini digunakan selama 14 hari. Namun apabila bercak putih

semakin melebar dan rasa gatal tidak kunjung hilang, pasien disarankan untuk konsultasi ke

dokter. Terapi non farmakologi yang dapat disarankan yaitu berganti pakaian ketika sudah

berkeringat, menjaga kebersihan seperti mandi 2x sehari, bekerja menggunakan sarung tangan,

dan menggaruk bagian yang gatal secara pelan-pelan agar infeksinya tidak semakin melebar.

Panu dikatakan sembuh ketika pasien tidak lagi merasa gatal dan bercak putih memudar. Warna

putih ini sering kali lama untuk hilang hingga kembali ke warna kulit semula. Untuk repigmentasi

kulit ini dapat menggunakan krim/lotion serenium sulfida.


Bisul








Komentar

Postingan Populer