GERD dan Gastritis
Terapi farmakologi yang dapat diberikan kepada pasien yaitu :
a. Antasida merupakan agen penetralisir asam yang sering digunakan pada gejala GERD yang ringan. Contoh antasida yaitu magnesium hidroksida, aluminium hidroksida, asam alginat dan kalsium karbonat (DiPiro, et al., 2020).
b. H2RA (H2 Receptor Antagonist) merupakan terapi penurun produksi asam yang menghambat reseptor histamin. Obat-obatan H2RA yaitu cimetidine, famotidine, nizatidine dan ranitidine (DiPiro, et al., 2020).
c. PPI (Proton Pump Inhibitor) merupakan terapi penurun produksi asam yang menghambat pompa proton. PPI digunakan sebagai terapi awal pada pasien dengan gejala sedang hingga parah. Obat-obatan PPI yaitu esomeprazole, lansoprazole dan omeprazole (DiPiro, et al., 2020).
b. Terapi Non-Farmakologi
a. Menghindari makanan yang memperburuk GERD antara lain makanan yang dapat menurunkan tekanan LES (misalnya, lemak dan coklat) dan makanan yang dapat mengiritasi mukosa esofagus (jus jeruk, jus tomat, kopi, dan merica) (Dipiro et al., 2020).
b. Elevasi kepala saat tidur, bagi pasien yang memiliki gejala saat posisi berbaring dengan meninggikan posisi kepala saat tidur sekitar 6 - 8 inci (15-20 cm) lebih tinggi dari badan. Hal ini dapat mengurangi waktu kontak asam esofagus nokturnal dan dapat mengurangi gejala GERD karena otot LES mengalami relaksasi saat tidur (Dipiro et al., 2020).
c. Tidak tidur setidaknya 3 jam setelah makan (Dipiro et al., 2020). d. Menurunkan berat badan jika pasien mengalami obesitas minimal 10% untuk membantu memperbaiki gejala GERD (Dipiro et al., 2020). e. Berhenti merokok dikarenakan merokok dapat menyebabkan aerophagia sehingga akan mengalami peningkatan sendawa dan regurgitasi. Dengan berhenti merokok dapat mengurangi faktor risiko terjadinya esofagus Barrett dan adenokarsinoma esofagus (Dipiro et al., 2020).
f. Menghindari alkohol dikarenakan alkohol dapat menurunkan tekanan LES dan dapat memperburuk gejala seperti mulas (Dipiro et al., 2020).
Terapi farmakologi yang dapat diberikan adalah obat golongan Proton-pump inhibitor (PPI) dengan durasi terapi trial selama 8 minggu dengan aturan pakai satu tablet satu hari, 30-60 menit sebelum makan (Katz et al., 2022). Berdasarkan Permenkes no. 924 tahun 1993 mengenai Daftar Obat Wajib Apotek no. 2, pemberian obat golongan PPI, Omeprazole, dapat diberikan maksimal 7 tablet per pasien. Dosis omeprazole yang diberikan adalah 20 mg/hari (BNF 69, 2015). Jika gejala GERD masih persistent setelah pemberian terapi maka direkomendasikan untuk dilakukan rujukan ke dokter.
Sebagai terapi penunjang untuk dapat meningkatkan efek terapi Dina, diberikan rekomendasi terapi non farmakologi berupa modifikasi gaya hidup. Modifikasi gaya hidup tersebut dapat meliputi (1) pentingnya menurunkan berat badan, (2) menjaga pola makan, (3) menghindari makan setidaknya 3 jam sebelum tidur, (4) memperbaiki pola tidur, (5) meninggikan posisi kepala saat tidur, (6) menghindari makanan yang dapat memicu kambuhnya GERD seperti coklat, kafein, dan makanan pedas, jeruk, dan minuman berkarbonasi (Antunnes, et al., 2017).
Gastritis
Pasien mengalami gejala sakit perut, kembung, mual, muntah, dan cepat kenyang. Pasien juga
mengalami stres karena kesibukannya mengerjakan skripsi. Selain itu, pasien juga memiliki
kebiasaan sering minum susu. Pasien sebelumnya sudah pernah mengalami sakit yang sama
dan dapat teratasi dengan Omeprazole 20 mg dan ingin meminta obat yang sama ke apotek.
Berdasarkan gejala yang dirasakan pasien dan faktor risiko yang dialami, pasien mengalami
dispepsia. Maka dari itu, pasien disarankan terapi farmakologi berupa Omeprazol. Omeprazol
merupakan salah satu golongan obat PPI, diberikan dalam dosis 20 mg dan diminum 1 tablet per
hari sebelum makan. Walaupun omeprazol merupakan obat keras, pemberian omeprazol
langsung oleh apoteker tanpa resep masih diperbolehkan karena Omeprazol termasuk Obat Wajib
Apotek (OWA), namun dibatasi hanya boleh tujuh tablet. Efek samping obat ini yaitu bisa terjadi
pusing, diare, dan mengantuk, tetapi tidak semua orang mengalami efek samping tersebut. Jika
ternyata pasien mengalami efek samping tersebut atau gejala yang dirasakan tidak membaik,
maka bisa segera periksa atau konsultasi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Selain meminum obat, pasien disarankan untuk menjaga pola tidur, jangan sering begadang, dan
melakukan olahraga ringan. Lalu untuk kebiasaan makan, pasien juga dianjurkan untuk
menghindari makanan pedas, gorengan, susu, kopi, dan minuman bersoda serta tidak langsung
tidur setelah makan.
Konstipasi
Terapi farmakologi untuk konstipasi yaitu dengan penggunaan obat pencahar. Terdapat 3 klasifikasi
obat pencahar: (1) yang menyebabkan pelunakan tinja dalam 1-3 hari (pencahar pembentuk massa, docusate, dan laktulosa), (2) yang menyebabkan tinja lunak atau setengah cair dalam 6-12 jam (bisacodyl dan senna), dan (3) yang menyebabkan evakuasi air dalam 1-6 jam (saline cathartics, castor oil, dan (PEG)−larutan lavage elektrolit). Selain itu, dapat juga digunakan agen lain termasuk aktivator kanal kalsium, agonis guanilat siklase C, dan agen serotonergik (Dipiro et al., 2015).
a. Dokusat
Dapat meningkatkan sekresi air dan elektrolit di usus kecil dan besar serta melunakan tinja dalam 1 sampai 3 hari. Kurang efektif dalam mengobati sembelit tetapi
digunakan terutama untuk mencegah sembelit. Membantu untuk menghindari mengejan terlalu keras, seperti pada pasien setelah pemulihan dari infark miokard, dengan penyakit perianal akut, atau setelah operasi rektal (Dipiro et al, 2015). Efek samping berupa mual, muntah, kram perut, diare (Lacy et al, 2009). Contoh produk: Laxatab.
b. Laktulosa
Laktulosa umumnya tidak direkomendasikan sebagai agen lini pertama untuk pengobatan sembelit karena mahal dan dapat menyebabkan perut kembung, mual, dan ketidaknyamanan perut atau kembung. Contoh produk: Lactulax sirup 60 ml. c. Sorbitol
Merupakan suatu monosakarida yang telah direkomendasikan sebagai agen utama dalam pengobatan sembelit fungsional pada pasien yang secara kognitif utuh. Ini sama efektifnya dengan laktulosa, dapat mengurangi rasa mual, dan jauh lebih murah (Dipiro et al, 2015).Efek sampingnya berupa iritasi pada anus, mual, muntah (Lacy et al, 2009). Contoh produk: Microlax gel tube @5ml.
d. Gliserin
Biasanya diberikan sebagai supositoria 3-g dan memberikan efeknya melalui aksi osmotik di rektum. Onset kerja biasanya kurang dari 30 menit. Penggunaannya aman, tetapi terkadang dapat menyebabkan iritasi pada rektal untuk sembelit (Dipiro et al, 2015). Dosis dewasa dengan penggunaan rektal yaitu 1 supositoria dewasa 1-2 kali / hari sesuai kebutuhan atau 5-15 mL sebagai enema. Efek samping: mual, muntah, iritasi rektal, diare (Lacy et al, 2009).Contoh produk: Laxadine.
e. Bisacodyl
Mekanisme kerjanya yaitu merangsang gerak peristaltik dengan langsung mengiritasi otot polos usus. Dapat diberikan secara oral dengan segelas air pada saat perut kosong untuk efek yang cepat. Efek samping: kram perut ringan, mual, muntah, iritasi pada rektal pada penggunaan suppositoria (Lacy et al, 2009). Contoh produk: Dulcolax suppositoria (bisacodyl 10 mg) dan Dulcolax tablet (bisacodyl 5 mg).
f. PEG
Larutan lavage polietilen glikol (PEG)−elektrolit telah menjadi populer untuk pembersihan usus besar sebelum prosedur diagnostik atau operasi kolorektal. Biasanya 4 L larutan ini diberikan selama 3 jam untuk mendapatkan evakuasi lengkap dari saluran GI. PEG tidak dianjurkan untuk pengobatan rutin sembelit, dan penggunaannya harus dihindari pada pasien dengan obstruksi usus. Larutan PEG dosis rendah (10−30 g atau 17−34 g per 120−240 mL) sekali atau dua kali sehari dapat digunakan untuk pengobatan sembelit (Dipiro et al, 2015). Efek sampingnya berupa flatulensi dan kembung.
Pasien mengalami gejala susah buang air besar. Saat buang air besar terasa sakit dan terkadang
berdarah. Selain itu, pasien juga merasakan sakit perut dan ada benjolan di sekitar anus. Pasien
memiliki kebiasaan sering duduk dan menahan buang air besar. Kesulitan buang air besar bisa
terjadi karena kekurangan asupan serat dan cairan serta bisa juga karena kurang aktivitas fisik.
Kebiasaan seperti ini kalau dilakukan terus menerus dapat menyebabkan feses menjadi keras
dan sulit dikeluarkan. Pada kondisi semacam ini, pasien biasanya akan mengejan ketika buang
air besar. Kebiasaan mengejan bisa berdampak buruk ke pembuluh darah di anus, menimbulkan
benjolan dan luka, serta memicu perdarahan dan nyeri. Berdasarkan faktor risiko dan gejala yang
dirasakan, pasien mengalami konstipasi dan hemoroid. Hemoroid yang dialami pasien ada pada
derajat 2-3 karena sudah sampai perdarahan dan benjolan. Maka dari itu, saran terapi yang
diberikan pada pasien yaitu menggunakan obat untuk mengatasi wasirnya, seperti Ardium atau
Ambeven. Kedua obat ini bekerja dengan cara meringankan gejala wasir dan mengatasi
pembengkakan. Cara minum untuk Ardium yaitu 3 tablet/hari selama 4 hari lalu dilanjutkan dengan
2 tablet/hari selama 3 hari. Efek samping obat ini yaitu diare, mual, muntah, tetapi tidak selalu
terjadi. Selain obat, pasien juga disarankan untuk memulai hidup sehat, makan makanan yang
tinggi serat, dan meningkatkan asupan cairan dengan minum air putih minimal 8 gelas/hari. Selain
itu, pasien juga disarankan untuk meningkatkan aktivitas fisik, jangan terlalu sering duduk, bisa
dengan berdiri, jalan-jalan kecil, naik turun tangga, dan olahraga saat akhir pekan. Apabila gejala
tidak mengalami perbaikan atau justru semakin parah, maka bisa konsultasi ke dokter untuk
penanganan lebih lanjut. Ardium disimpan di suhu ruang, tidak terlalu lembab, dan tidak terkena
sinar matahari langsung.
Motion Sickness
Pasien sedang hamil 5 bulan, mengeluh sering pusing, mual, dan muntah selama perjalanan
menggunakan mobil. Pasien rutin melakukan aktivitas fisik seperti yoga, serta pola makan, pola
tidur, dan pola pernapasannya teratur. Dari gejala yang dialami, pasien mengalami motion
sickness atau mabuk perjalanan. Gejala motion sickness yaitu sakit kepala, pusing, mual, dan
muntah. Mual muntah saat perjalanan dapat terjadi karena guncangan, terutama pada pasien
hamil juga dipengaruhi oleh hormon. Terapi farmakologi untuk motion sickness yang dapat
diberikan yaitu obat golongan antihistamin seperti Antimo yang mengandung Dimenhydrinate
setiap 4-6 jam selama perjalanan atau ketika mual muntah. Lalu, obat Femipreg dengan komposisi
Doxylamine Succinate 10 mg, asam folat 2,5 mg, dan piridoxin 10 mg ini bisa digunakan sebagai
terapi mual muntahnya. Obat ini diminum 30 menit sebelum perjalanan dengan air putih. Femipreg
aman bagi ibu hamil, tetapi mungkin terdapat beberapa efek samping, yaitu konstipasi, pusing,
tenggorokan kering, sakit kepala, dan mengantuk. Efek samping ini tidak terjadi pada semua
orang dan hanya bersifat sementara, tetapi jika ada efek samping yang muncul dan dirasa
mengganggu, maka dapat konsultasi ke dokter. Obat ini dapat disimpan di kotak obat atau toples,
terhindar dari sinar matahari, jangkauan anak-anak, dan kelembaban. Selain itu, pasien juga
disarankan untuk tidak makan terlalu banyak sebelum perjalanan, membawa aromaterapi seperti
minyak kayu putih, duduk menghadap depan, mengurangi penggunaan HP, dan mendengarkan
lagu.
.
Komentar
Posting Komentar